Film, Uncategorized

My Generation: Film Yang Menyuarakan Hati Remaja Milenials

Masa remaja merupakan masa-masa indah sekaligus masa pencarian jati diri. Bisa dibilang masa itu adalah masa dimana mereka bukanlah anak kecil lagi tapi juga belum bisa dibilang dewasa. Masa dimana mereka ingin keberadaannya diakui baik dimata teman sebaya, guru, orang tua juga lingkungan. Menjadi anak muda di generasi sekarang banyak dimanjakan oleh kemudahan teknologi. Segala informasi yang didapatkan hanya dengan memainkan jari jemari di gadget, semua akses informasi yang kita inginkan dapat kita temukan. Menjadi pekerjaan rumah bagi para orang tua untuk memantau aktifitas mereka.

img-20170925-wa0013-421803500.jpg

Kemudahan-kemudahan itulah yang bisa saja menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri juga orang tua. Banyak orang tua yang dengan kesibukannya hanya menggantungkan pengawasan anak-anak remaja mereka pada guru atau bahkan pada asisten rumah tangga mereka. Sosok panutan yang mereka dambakan hampir tidak ada dalam kehidupan nyata mereka walau secara real orang tua mereka ada. Banyaknya tuntutan dan larangan-larangan yang mereka dapatkan tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Di Film My Generation besutan sutradara Upi Avianto ini bercerita tentang kegalauan dan keresahan remaja milenials. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan adalah figur orang tua yang mau dan mampu mensupport apa yang menjadi cita-cita dan keinginan mereka. Bukan hanya menjadi sosok yang banyak melarang ini dan itu atau memberikan dogma-dogma yang dalam kenyataannya tidak dicontohkan oleh para orang tua. Visualisasi film ini mungkin terlihat berani, namun sebenarnya ini merupakan realitas dari kehidupan anak-anak remaja sekarang. Upi tidak sembarangan dalam membuat film ini, butuh waktu untuk riset selama kurang lebih 2 tahun.

img-20171010-wa0035-1131912188.jpg
Pemain My Generation di PressCon

Kalau mau jujur, sebenarnya film ini menelanjangi kita, para orang tua untuk mengevaluasi sikap dan prilaku kita sebagai orang tua, apakah sudah mencontohkan yang terbaik untuk anak-anak kita. Menjadi warning juga bagi para orang tua di jaman generasi X ini untuk melek terhadap realitas yang ada, dengan pemikiran anak-anak yang open minded, kritis, kreatif dan yang tidak mengikat. Bukan berarti juga mereka bebas tanpa aturan, tapi aturan tetap perlu untuk menjadikan mereka aware tentang lingkungan sekitar dan tujuan hidup mereka.

Film My Generation berusaha memotret kehidupan anak muda masa kini yang lebih kompleks dari generasi sebelumnya, bertema kekinian sesuai dengan generasi mereka sekarang yaitu generasi millenials. Bercerita tentang persahabatan 4 anak SMU yaitu Zeke, Konji, Orly dan Suki. Bermula dari ketidakikutsertaan mereka pada acara liburan sekolah yang mereka anggap tidak istimewa. Serta video kritikan tentang sekolah yang mereka buat, yang membuat mereka dihukum. Namun dari semua kejadian itu mereka mendapatkan pengalaman dan petualangan-petualangan yang memberi mereka pelajaran tentang kehidupan.

img-20170925-wa0010-421803500.jpg
Pemain My Generation

Berikut profil singkat My Generation :

  • Sutradara dan Penulis Skenario : Upi Avianto (film-film besutannya antara lain Realita Cinta dan Rock and Roll, 30 Hari Mencari Cinta, My Stupid Boss).
  • Produksi : IFI Sinema Film
  • Pemain : Bryan Langelo (sebagai Zeke), Alexandra Kosasie (sebagai Orly), Lutesha (sebagai Suki), Arya Vasco (sebagai Konji), Surya Saputra, Aida Nurmala.
  • Tayang : 9 November 2017

Melalui film My Generation ini semoga para orang tua bisa lebih objektif melihat mereka, para remaja. Bahwa mereka juga manusia yang punya keinginan mereka sendiri untuk didengarkan. Lihat mereka dengan lebih bijak dan membimbing mereka dengan contoh yang sesuai dengan ucapan-ucapan yang mereka dengar. Yuuk saksikan bersama-sama film My Generation di bioskop-bioskop di kotamu.

photogrid_1508134547282-421803500.jpg
Poster MyGeneration

Instagram : @mygenerationfilm @ifisinema

Twitter : @myGfilm @ifisinema

 

Advertisements
Film, Uncategorized

“An Inconvenient Sequel: Truth to Power” Ajakan Al Gore Untuk Memikirkan Perubahan Iklim Dunia

Isu perubahan iklim global dan dampaknya belakangan ini semakin gencar dihembuskan. Berbagai negara dengan alasannya masing-masing ada yang menanggapi positif dengan isu perubahan iklim global, tidak sedikit yang menanggapi negatif.

Momentum Kesepakatan Paris 2015 yang berhasil dibubuhkan untuk memerangi perubahan iklim sudah sepatutnya kita dukung. Karena isu perubahan iklim itu bukan hanya melibatkan satu negara tapi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat menggagas film An Inconvenient Truth pada tahun 2006. Tahun 2017 ini beliau merilis kembali film dokumenter terbarunya yaitu “An Inconvenient Sequel: Truth to Power”. Adalah The Climate Reality Project Indonesia bekerjasama dengan Paramount Pictures mengadakan pemutaran perdana film tersebut di Epicentrum XXI, Jakarta pada 21 Agustus 2017.

The Climate Reality Project Indonesia yang didirikan tahun 2009 organisasi nirlaba dengan Amanda Katili Niode PhD sebagai Manager, yang merupakan bagian dari The Climate Reality Project yang didirikan tahun 2006 oleh Al Gore yang membantu warga di seluruh dunia menemukan kebenaran dan mengambil langkah penting untuk mewujudkan perubahan.

Al Gore dalam film An Inconvenient Sequel: The Truth to Power ini menceritakan perjuangannya berkeliling dunia melatih pejuang-pejuang iklim serta mempengaruhi kebijakan iklim internasional. Begitu banyak momen yang mengharukan juga yang menginspirasi saat beliau mengejar gagasan inspirasional bahwa walaupun berisiko tinggi, bahaya perubahan iklim dapat diatasi dengan akal dan semangat manusia. 

Kegigihan Al Gore di film yang pertama membuahkan hasil dengan adanya momentum Kesepakatan Paris 2015. Namun semua usaha itu masih harus diperjuangkan lagi seperti yang beliau ungkapkan di film keduanya. Kegigihan beliau berkeliling dunia melatih pejuang iklim serta mempengaruhi kebijakan iklim internasional.

Pemanasan global itu nyata adanya, begitu banyak peristiwa-peristiwa alam yang menandakan pada perubahan iklim itu sendiri.  Penyebab utamanya adalah manusia dan pengaruhnya sangat dahsyat jika tidak kita sikapi. Tanpa kita sadari krisis iklim itu isu yang harus diperhatikan saat ini dan masa mendatang.

Selain film An Inconvenient Sequel: The Truth to Power ini, Al Gore juga sekaligus meluncurkan buku dengan judul yang sama. Penelitian dari para ilmuwan terkemuka diseluruh dunia, juga pengalaman berdasarkan pengamatan pribadi didukung foto-foto yang mendokumentasikan pemanasan global tersebut.

Pemutaran film ini diharapkan dapat membuka mata hati dan kepedulian masyarakat juga akan pentingnya isu perubahan iklim ini. Dan sudah seharusnya kita menciptakan gebrakan seputar isu tersebut. Dunia bukan hanya punya segelintir orang atau negara, dan menjadi tugas umat manusialah untuk menjaga dan peduli akan keberlangsungannya, bukan dengan mengeksploitasinya.

Fight like your world depends on it

http://www.inconvenientsequel

Facebook : @An Inconvenient Truth

HQ’17

Film, Uncategorized

Mars Met Venus (Part Cowo)

Warna-warni hubungan laki-laki dan perempuan selalu ada, sudut pandang mereka yang selalu berbeda tidak akan ada habisnya. Perempuan itu makhluk yang sebagian orang bilang jenis yang susah ditebak apa maunya, sedang laki-laki termasuk yang tipe cuekan, ga ngerti perasaan perempuan. Ibarat air dan minyak, hubungan laki-laki dan perempuan itu susah untuk dicampurkan namun tetap memberikan arti tersendiri. 

Nah.. film Indonesia besutan sutradara Hadrah Daeng Ratu yang naskahnya ditulis oleh Nataya Bagya ini banyak menampilkan keseruan hubungan antara laki-laki dan perempuan. 

Film ini menjadi keunikan tersendiri untuk pecinta film Indonesia. Untuk pertama kalinya suatu film dibelah menjadi dua bagian, dari sudut pandang perempuan (Part Cewe), dan sudut pandang laki-laki (Part Cowo). Kedua bagian ini akan release secara berdekatan.

img_20170713_153603.jpg

Pada 13 Juli 2017 lalu, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri Press Screening film Mars Met Venus di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan bersama Blogger Crony. Press Screening Film Mars Met Venus produksi MNC Pictures ini juga dihadiri oleh seluruh pemeran inti, sutradara, produser juga kru film. 

Pada kesempatan itu sekaligus diputar Part Cowo dan Part Cewe, kebetulan saya menonton yang Part Cowo. Release kedua bagian itu nantinya untuk Part Cewe tanggal 20 Juli 2017, sedang Part Cowo tanggal 3 Agustus 2017.

Sinopsis

“Mars Met Venus” menceritakan Kelvin (diperankan oleh Ge Pamungkas) adalah seorang calon arsitek yang berencana menikahi pacarnya Mila (diperankan oleh Pamela Bowie) teman satu sekolahnya sewaktu di SMA. 

Hubungan mereka yang layaknya pasangan lain yang dimulai dari cinta monyet, pedekate, jadian hingga ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Dalam rangka melamar Mila, Kelvin punya ide cemerlang untuk merekam perjalanan cinta mereka dengan membuat vlog (video blog).

Ternyata pembuatan vlog membuka hal-hal yang selama ini tidak diperhatikan Kelvin dan Mila. Banyak kesalahpahaman dan sudut pandang yang bertentangan. Mulai dari telat vs on time saat janjian, memilih makanan, siapa yang jatuh cinta duluan, hingga prinsip hidup dan pentingnya keluarga menjadi ujian yang harus mereka hadapi. 

Kelvin dan Mila terus diuji. Belum lagi peran sahabat-sahabat Kelvin (diperankan oleh Cameo Project) dan sahabat Mila (diperankan oleh Ria Richis dan Rani Ramadhany) yang menjadi tempat curhat dan memberikan nasehat.

Seperti apa sih keseruan perbedaan mereka, konflik-konflik yang mereka hadapi juga andilnya sahabat-sahabat mereka? Mau tau juga rahasia cewe? Atau rahasia cowo? Tonton aja yuk filmnya, gak nyesel deh..

 My review

Menonton film Mars Met Venus buat saya seperti flash back ke masa saat saya seumuran mereka, masa-masa sekolah dan ketika pertama kali pedekate dan pacaran. Hahaha..senyum-senyum sendiri deh jadinya. 

Saya sengaja memilih untuk menonton yang Part Cowo karena saya penasaran seperti apa sih makhluk cowo versi film ini dan rahasia-rahasia mereka.

Di film Part Cowo ditampilkan bagaimana versi cowo menghadapi perempuan (pacarnya). Kayaknya susah banget ya jadi cowo..hehehe. Selalu salah di mata perempuan. Sebenernya gak juga sih..cuma mungkin laki-laki itu lebih mengandalkan logika mereka dibandingkan perasaan, beda dengan perempuan. 

Akting Ge Pamungkas dan Pamela Bowie terlihat natural, layaknya sepasang kekasih di dunia nyata. Lucunya ada satu scene dimana Ge berusaha mengungkapkan perasaannya yang dia sendiri gak bisa ungkapin ke pacar sebenernya. 

Di film Mars Met Venus inilah kesempatan Ge mengeluarkan unek-uneknya tanpa menyakiti perasaaan kekasih sebenarnya. Jadi ceritanya Pamela Bowie jadi pelampiasannya hahahaha.

Didukung para youtuber seperti Ria Richis dan Cameo Project, film Mars Met Venus banyak sekali mengundang kelucuan. Sebagai sahabat di Part Cowo ini, kuartet Cameo Project memberikan peran yang mendukung untuk Ge dan Pamela. Menurut saya, cowo itu kalo sudah menemukan teman dekat dalam hal ini sahabat, mereka pun bisa main perasaan juga.

Di scene ketika dalam pembuatan vlog, Kelvin mendapati satu perbuatan yang menurutnya sepele tapi ternyata berimbas besar ke hubungannya dengan Mila. Disitulah dia merasakan bahwa dia belum mengerti sepenuhnya perasaan Mila. 

Hubungan perempuan dan laki-laki itu seperti air dan minyak yang begitu banyak perbedaan. Namun perbedaan itulah yang seharusnya mejadi pelengkap, bukan malah menjadi beban.

 

MARS MET VENUS

Produksi : MNC Pictures

Executive Producer : Toha Essa dan Affandi Abdul Rachman

Produser : Ferry Ardiyan

Creative Producer : Lukman Sardi

Sutradara : Hadrah Daeng Ratu

Skenario : Nataya Bagya

Pemain : Ge Pamungkas, Pamela Bowie, Reza Nangin, Ibob Tarigan, Steve Pattinama, Martin Anugrah, Fadi Iskandar, Rani Ramadhany, Ria Richis, Pong Harjatmo, Ayu Diah Pasha, Ovy Dian, Ajeng Suseno, Amanda Zevannya, Wisnu Adji Hidayat, Nurul Noor.

Penyanyi sound track : Citra Schollastika

 

Website : www.mncpicture.com

Instagram : @filmmarsmetvenus

Twitter : @marsmetvenus

 

 

 

HQ’17

 

Film, Uncategorized

“Sendirian Atau Berdampingan, Hidup Sepatutnya Tetap Penuh Arti”: Filosofi Kopi 2 (the movie) 

Mendengar berita kalo Filosofi Kopi bakal ada sekuelnya itu, rasanya ga sabar banget pengen cepet-cepet nonton filmnya. Makanya waktu BloggerCrony nyebar flyer nobarnya, wahh langsung donk saya ikut daftar. Alhamdulillah tanggal 5 Juli 2017 lalu bisa ikutan nobarnya.

Bertempat di XXI Plaza Indonesia, saya dan rekan-rekan BloggerCrony hadir di screening film Filosofi Kopi 2. Film yang diangkat dari buku Filosofi Kopi karya Dee Lestari ini merupakan sekuel dari Filosofi Kopi yang pertama yang rilis 2015. Animo pecinta film Indonesia cukup bagus, hingga dibuat Filosofi Kopi 2.

Screening film Filosofi Kopi 2 dimulai jam 19.00, dibuka oleh kehadiran pemain utamanya yaitu Chicco Jerikho, Rio Dewanto dan Luna Maya serta perwakilan Visinema sebagai rumah produksinya. 

Chicco Jericho, Luna Maya, Rio Dewanto (Dok : BloggerCrony)

Sinopsis 

Keputusan menjual kedai Filosofi Kopi dan memutuskan untuk berkeliling Indonesia, dimaksudkan Ben dan Jodi untuk membagikan kopi terbaik di tiap cangkir Filosofi Kopi. Perjalanan Filosofi Kopi berkeliling Indonesia selama 2tahun dengan vw kombi, berakhir di Bali ketika 3 baristra mereka, Nana, Alga dan Aldi memutuskan resign. 

Setelah bergonta-ganti baristra untuk menggantikan ketiganya, akhirnya Ben dan Jodi memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Seperti yang Alga bilang bahwa dia punya mimpi yang ingin diwujudkan sama seperti mimpi yang dipunya Ben dan Jodi di Filosofi Kopi. Mereka harus keluar dari zona nyaman mereka sekarang dan kembali ke Jakarta untuk membangun kedai Filosofi Kopi kembali. 
Antara mimpi dan idealisme membuat Ben dan Jodi menjalani hal-hal yang tidak mudah dalam mewujudkan mimpi mereka. Dimulai dengan sulitnya bernego dengan pemilik bangunan kedai lama mereka hingga kesulitan mencari dana. 

Dalam usahanya itu, mereka dipertemukan dengan Tarra (diperankan oleh Luna Maya) dan Brie (diperankan oleh Nadine Alexander). Tarra, wanita cantik sekaligus investor yang akhirnya menjadi mitra mereka dan Brie, barista geek yang sering berbeda pendapat dengan Ben. 

Kehadiran Tarra dan Brie di Filosofi Kopi banyak menghadirkan kejutan2. Pertentangan Ben dan Brie tentang kopi juga hubungan Tarra dengan kehidupan Ben dan ayahnya. Akankah Ben bisa menerima kehadiran Brie? Ada apakah dengan Tarra dan kehidupan ayah Ben,apakah ada hubungannya dengan perkebunan ayah Ben? Konflik-konflik pun banyak terjadi. Penasaran kan? Tonton aja yuuk peluncuran perdananya di tanggal 13 Juli serentak di bioskop-bioskop kesayanganmu. 

My Review

Film Filosofi Kopi2 ini memang berbeda dengan novelnya. Tapi keduanya tetap menyajikan cerita dan adegan yang menarik. Ada hal menarik yang saya tangkap dari film Filosofi Kopi 2 ini, yaitu tentang Mimpi dan Cita-cita.

Potongan kalimat Alga, barista Filosofi Kopi yang mengundurkan diri karena ingin mewujudkan impiannya bahwa kitapun bisa mewujudkan mimpi kita, cita-cita kita sama seperti orang lain. Berjuanglah untuk mewujudkan impian kita, jangan hanya sekedar jadi keinginan. Ben dan Jodi pun mau gak mau harus menghargai mimpi dan keinginan Alga karena semua orang berhak untuk mengejar cita-cita dan mewujudkan mimpi mereka.

Dari segi akting, tentulah tidak diragukan lagi kualitas akting Chicco Jerikho sebagai Ben dan Rio Dewanto sebagai Jodi. Kehadiran Luna Maya pun menambah menarik jalan cerita film Filosofi Kopi 2. Kalo saya perhatikan, Luna Maya terlihat lebih segar dan bugar di film ini. Saya bukan penggemar fanatik Luna Maya tapi saya lihat aktingnya bisa mengimbangi Chicco dan Rio. 

Kehadiran pemain lain seperti Melissa Karim, Ernest  dan Tio Pakusadewo semakin menambah berisi jalan cerita di film Filosofi Kopi2 ini. 

Ketertarikan saya di film Filosofi Kopi 2 selain karena pemerannya, juga karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya setelah di Filosofi Kopi sebelumnya yg sudah lama diproduksi tahun 2015. 

Di Filosofi Kopi 2 ini banyak menghadirkan scene-scene memanjakan mata daerah wisata seperti di Yogya, Lamping, Makassar, Bali. Belum lagi penjelasan-penjelasan Ben dan Brie tentang kopi, buat saya sangat menarik. Filosofi yang dihadirkan di tiap Ben menyuguhkan kopi sangat mengena sekali. 

Seperti yang Ben katakan bahwa setiap kopi mempunyai filosofinya masing-masing. 

Tiwus – walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya. 

Macchiato – sendirian atau berdampingan, hidup sepatutnya tetap penuh arti. 

Perfecto – sukses adalah wujud kesempurnaan hidup. 

Tubruk – kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona. 

Cappuccino – keseimbangan dan keindahan adalah syarat mutlak keberhasilan. 

Karena kopi itu bukan untuk diminum tapi untuk dinikmati. Itulah filosofi yang tidak pernah ditulis tapi selalu ada di setiap cangkir yang ada di kedai Filosofi Kopi. Karena “Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa“.

Filosofi Kopi 2

Novel asli : Dee Lestari 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : Visinema Pictures 

Produser : Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto 

Penulis naskah : Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko 

Durasi : 97 menit 

Pemain : Chicco Jericho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexander

Social Media 

Facebook : Filosofi Kopi 2

Twitter : @filkopmovie 

Instagram : @filkopmovie 

HQ’17

Film, Uncategorized

InsyaAllah Sah! Film Komedi Sarat Makna 

Untuk kesekian kalinya film Indonesia meramaikan kancah perfilman negeri kita ditengah serbuan film-film asing. Jelang Idul Fitri nanti MD Pictures akan meluncurkan film terbarunya, film bergenre komedi dengan nuansa Islami. Film yang diambil dari novel penulis kenamaan Achi TM, dengan judul yg sama “InsyaAllah Sah!”. 

Setelah proses shooting yang memakan waktu kurang lebih 3(tiga) minggu, digelar Meet and Greet InsyaAllah, Sah! pada Senin, 5 Juni 2017 di gedung MD Place, Kuningan, Jakarta Selatan. Saya dan teman blogger dan media lainnya pun berkesempatan hadir di acara itu. 

Meet and Greet InsyaAllah, Sah! dihadiri oleh Achi TM (penulis), Panji Pragiwaksono (sebagai Raka), dan Donita (sebagai Kiara). Acara dimulai pukul 17.00 dibuka oleh mbak Achi TM yang menjelaskan asal muasal ditulisnya novel InsyaAllah Sah! 
Menulis merupakan passion mbak Achi TM sebagai profesinya. Sudah banyak karya tulis baik itu novel maupun naskah skenario yang dihasilkan. Namun ada kalanya kejenuhan datang. Pada titik jenuh itulah Achi pernah berkeinginan untuk berhenti menulis. 

Achi TM, penulis novel InsyaAllah Sah! (Dok:penulis)

Hingga suatu saat Achi diundang ke Universitas Andalas, Padang sebagai pembicara dalam acara workshop penulisan. Di workshop tersebut Achi memberikan motivasi untuk terus menulis, padahal saat itu Achi mulai merasa jenuh menulis. 

Di pesawat, Achi kehilangan tasnya yang berisi laptop dan naskah-naskah tulisannya, juga rendang oleh-oleh dari Padang. Achi tersentak, mungkinkah ini teguran Allah karena dia punya keinginan untuk berhenti menulis. Achi pun bernazar apabila tasnya yang berisi harta karunnya itu ketemu, dia akan menulis novel bernuansa Islami. Tidak berapa lama setelah terucapnya nazar itu, Alhamdulillah tas yang berisi laptop dan naskah tulisannya ditemukan. 

Dari sejak peristiwa itu,mbak Achi kembali fokus untuk menulis. Tawaran untuk membuat novel Islami juga datang. Kelahiran InsyaAllah Sah!pun karena nazar yang diucapkan. Achi ingin setiap novel yang dibuatnya itu bisa dibuatkan filmnya. 

Pernah Achi menggelar launching novel barunya besar-besaran dengan harapan novelnya akan dilirik produser untuk dibuatkan filmnya, namun itu gagal. Tidak sekali saja, tapi setiap selesai membuat novel Achi selalu berkeinginan bahwa novel itu akan difilmkan. 

Di novel InsyaAllah Sah! novel pertama Achi akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Novel InsyaAllah Sah! dilirik pihak MD Pictures dan dijadikan film dengan judul yang sama. 

Film InsyaAllah Sah! bercerita tentang kehidupan Silvi (diperankan Titi Kamal) yang terjebak di dalam lift bersama Raka (diperankan Panji P). Raka adalah seorang pemuda religius yang polos, jujur namun terlihat aneh dan menyebalkan. 

Panji Pragiwaksono sebagai Raka (Dok: instagram InsyaAllah Sah!)

Raka selalu menghantui kehidupan Silvi yang tertangkap bernazar untuk menjadi wanita muslimah yang lebih baik lagi. Silvi yang berkarakter rame, ceplas ceplos, judes terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Raka. Bersama dengan Dion (diperankan Richard Kyle) tunangannya,  Silvi berhadapan dengan Raka yang sering muncul dan menyebalkan.

Ada banyak kejadian-kejadian lucu sepanjang shooting berlangsung. Seperti yang diceritakan Donita, setiap shooting berlangsung selalu membuatnya merasa sakit perut karena banyak menahan tertawa. Peran Kiara sebagai sahabat Silvi yang dimainkan Donita itu tidak terlalu menguras energi. 

Donita sebagai Kiara (Dok: penulis)

Berbeda dengan Donita, Panji P yang memerankan Raka. Panji banyak melakukan riset dan diskusi sehubungan dengan perannya itu agar bisa menemukan kliknya dengan peran Raka. Mulai dari postur tubuh, cara berbicara, logat sundanya bahkan aksen suaranya pun Panji lakukan dengan total bahkan sampai tempelan gigi yang membuat beda bicaranya. 

Sampai pada saat di luar shooting pun tokoh Raka tetap melekat supaya feelnya dapat. Apabila ada yang bertanya ini Panji atau Raka, selalu dijawab dengan logat Raka bahwa Panji sedang dugem, yang ada Raka. 

Bahkan peran Raka terbawa juga di Meet and Greet waktu itu. Tidak ada Panji, yang ada hanya Raka. Peran Raka sangat berkesan disamping dukungan pemain-pemain lain juga. Seperti Titi Kamal yang berperan sebagai Silvi,  yang menurut Panji..eh Raka kalo Titi Kamal mah udah jago banget aktingnya. Pergantian schene dari adegan lucu ke adegan sedih pun mudah dilakukan. 

Achi TM, Donita, Panji Pragiwaksono (Dok:penulis)

Begitu juga dengan Richard Kyle yang selalu diucapkan Raka dengan “ka-il”. Richard berusaha keras dengan perannya itu, kesulitannya berbahasa Indonesia seringkali mengundang kelucuan-kelucuan. Ada satu adegan dimana saat itu Dion sedang marah besar terhadap Raka dan hendak memecat Raka. Namun karena kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia, membuat Richard salah mengucapkan dialog “Raka, hari ini kamu saya Ciputat! ” dengan mimik muka yang masih marah. Sontak semua pemain dan kru lain tertawa.
Selain bintang utama di atas, film InsyaAllah Sah! yang di sutradarai Benni Setiawan itu terlihat juga beberapa artis besar sebagai cameo. Ada sekitar 20-an artis yang terlibat di dalamnya. Ada Deddy Mizwar, Prilly Latuconsina, Lidya Kandau, Ira Maya Sopha, Ari Tulang, dan lain-lain. 

Penasaran ya seperti apa kelanjutan ceritanya, apa yang terjadi di kehidupan Silvi selanjutnya. Apakah Silvi akan menyelesaikan nazarnya? Ada kelucuan-kelucuan apalagi di film InsyaAllah Sah!  Saksikan ya film InsyaAllah Sah! tayang tanggal 25 Juni 2017 di bioskop-bioskop kesayangan kalian. 


InsyaAllah
Sah!

Penulis : Achi TM 

Produksi : MD Pictures 

Produser : Manoj Punjabi 

Sutradara : Benni Setiawan 

Pemain :  Panji Pragiwaksono, Titi Kamal, Donita,  Richard Kyle 

Kategori : komedi Islami 

Batas Usia : 13+
HQ’17

Film

Ketika “Ular Tangga” Bukan Lagi Jadi Permainan Biasa 

Film thriller atau horror sebenarnya bukan jenis film favorit saya. Butuh effort tersendiri untuk berani menonton jenis film tersebut hehehe 😂. Mencoba keberuntungan dan uji nyali waktu pertama kali saya memutuskan untuk ikut mendaftar event nobar film “Ular Tangga ” yang diposting oleh BloggerCrony Community. “Aah.. Gak ada salahnya sekali-sekali nonton film thriller buatan Indonesia, lepas sebentar dari comfort zone sekalian uji adrenalin..hehe “,dalam hati saya berkata.

Film yang dibintangi oleh Shareefa Danish,  Vicky Monica,  Ahmad Affandy,  Alessia Cestaro,  Randa Septian,  Fauzan Nasrul, Yova Gracia ini diproduksi oleh PT Lingkar Film dan disutradarai oleh Arie Azis yang seperti kita ketahui banyak memproduksi film bergenre sama seperti “Suster Ngesot” yang sempat booming di kancah perfilman Indonesia. Film ini juga diproduseri oleh Tommy Soemarni yang usianya baru 14tahun (jadi produser termuda). Wow.. Saya umur 14tahun buat apa ya..? Main bekel dan lompat tali ma teman-teman ☺ .

Sekilas melihat posternya yang suram berefek misteri, membuat saya penasaran untuk menontonnya. Apalagi ada permainan ular tangga yang kotaknya seperti dalam film Hollywood “Jumanji”. Tapi jauh berbeda jalan ceritanya walau menurut saya ada kemiripan di temanya yaitu tentang permainan yang membawa petaka.

Film dibuka dengan adegan Vicky Monica sebagai Fina, mahasiswi cantik yang memiliki indra keenam, yang bermimpi mendapat pertanda buruk akan menimpa teman-temannya. Fina sempat melontarkan kekhawatirannya tentang rencana hiking mereka ke Bagas, kekasihnya (diperankan oleh Ahmad Affandy). Tetapi Bagas tidak mengindahkan bahkan tidak suka ketika tahu Fina masih membaca buku “Dream”nya Sigmund Freud “Kamu tuh terpengaruh buku ini, makanya mimpipun kamu terlalu dipikirin”,sambil berlalu Bagas mengambil buku “Dream” yang Fina bawa.

Hiking yang memang sudah mereka rencanakanpun tetap dijalankan. Fina, Bagas, dan keempat sahabat mereka lainnya (Martha, William, Dodoy dan Lani) pun mulai berangkat dengan dipandu oleh Gina, diperankan oleh Shareefa Danish. Alur cerita mulai bergulir, efek misteri mulai teraba disini. Sesampai di lokasi Gina sang pemandu sempat menegaskan kepada mereka untuk menuruti apa yang dikatakannya untuk tidak meninggalkan jejak di hutan dan tidak mengambil apapun dari sana. Peta pendakian pun sudah diserahkan dengan catatan untuk tidak melanggar jalur yang sudah ditentukan. Namun kecerobohan terjadi yang akhirnya membawa malapetaka bagi mereka. Dimulai dari jalur yang mereka langgar hingga membawa mereka kesebuah rumah tua dan penemuan permainan ular tangga yang terpendam dibawah tanah di sebuah pohon tua. Di sinilah awal petaka dimulai.

img_20170307_175549.jpg
Papan Ular Tangga

Dari penemuan papan permainan ular tangga inilah, satu persatu temannya menghilang setelah mencoba memainkan permainan itu, termasuk kekasihnya Bagas. Misteri berlanjut dengan munculnya tokoh 2(dua)gadis kecil dan nenek penunggu pohon besar, yang berhubungan dengan papan permainan ular tangga. Finapun semakin merasa bersalah, terlebih mendengar cerita dibalik papan permainan ular tangga itu. Akankah teman-temannya kembali? Yang menarik lagi siapakah Gina itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan Nenek penunggu pohon besar? 

Antusiasme penonton Ular Tangga 

Akhir film Ular Tangga ini menurut saya menarik karena tidak mudah tertebak. Sound effect pun mendukung jalan cerita, walau terkadang ada backsound lagu yang menurut saya kurang pas. Penasaran? Yuuk tonton keseruan dan ketegangannya di bioskop-bioskop kesayangan kalian. 

Penulis dengan Athiyah Shahab dan Khadijah Shahab, pemeran gadis kecil di film Ular Tangga

HQ’17