Seni Budaya, Uncategorized

Telah Hadir Perpusnas Baru, Perpusnas Seru

“Tumpukan dan jejeran buku di rak-rak panjang berderet seperti melambai-lambai memanggilku. Aah, sebentar ya buku, akan kutemani dirimu sepanjang hari. Akan kulahap semua cerita yang ada dan kita bersama berimajinasi.”

Rasanya ga bisa diucapkan dengan kata-kata sewaktu pertama kali saya memasuki ruang di lantai pertama gedung perpustakaan nasional (perpusnas) baru itu. Ada rasa senang, haru juga bangga. Rak buku setinggi 4 (empat) lantai terpampang di hadapan saya. Di sebelah kanan terlihat informasi petunjuk yang terdapat di setiap lantai dan di sebelah kiri terdapat layar lebar yang menginformasikan tentang gedung perpusnas baru.

Yah, tepat tanggal 14 September 2017 lalu, gedung perpusnas baru diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi. Dihadiri oleh Mentri Pendikan dan Kebudayaan Bapak Muhadjir Effendy, Kepala Perpusnas Bapak Drs.M.Syarief Bando,MM, Menristekditi Bapak Muhammad Nasir, Sekretaris Kabinet Bapak Pramono Arry dan Gubernur DKI Jakarta Bapak Djarot, Najwa Shihab selaku Duta Baca Nasional dan para undangan juga media dan blogger.

Saya merasa senang sekali bisa hadir dan menjadi saksi di acara peresmian gedung perpusnas baru tersebut. Pukul 8 pagi, saya dan rekan-rekan blogger lainnya juga para undangan sudah hadir disana. Acara dimulai dengan kata sambutan dari Bapak Mentri Pendidikan, Bapak Kepala Perpusnas juga Duta Baca Nasional, Najwa Shihab. Tepat pukul 11.00 Bapak Presiden memberikan pidatonya dan meresmikan pembukaan gedung perpusnas baru.

Pada acara peresmian tersebut hadir juga suguhan lagu-lagu daerah dan permainan angklung yang diperdengarkan oleh siswa siswi SMP, SMA Nasional 1 Bekasi, kak Ferry Curtis dan siswa siswi SD Daarul Hikam Bandung, dongeng Anak Bercerita oleh Daffa Haidar Rashad juga paduan suara perpusnas.

Gedung perpusnas baru yang diresmikan oleh Bapak Presiden RI, Jokowi ini terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan no.11, Jakarta Pusat. Tidak jauh dari gedung Balai Kota yang berdiri di atas lahan seluas 11.886 meter persegi dengan luas bangunan 50.445 meter persegi. 

Gedung perpusnas yang terdiri dari 24 lantai dengan 3 basement ini berada di kawasan Ring Satu pusat pemerintahan dan merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Proses pembangunan gedung tersebut menelan biaya hampir IDR500juta yang dianggarkan dalam 3 tahun (2014-2016). Diharapkan dengan adanya gedung perpusnas baru ini, masyarakat akan lebih tertarik untuk berkunjung dan melakukan aktifitas literasi disana. Selain juga agar minat baca masyarakat lebih meningkat.

Seperti yang kita ketahui, gedung perpusnas sebelumnya yaitu berada di Jalan Salemba. Sayapun merupakan salah satu anggota perpusnas disana. Perpustakaan merupakan salah satu tempat favorit saya untuk merealisasikan ide-ide yang ada di kepala saya dalam bentuk tulisan. Atau terkadang untuk sekedar me-refresh diri dengan membaca disana.

Nantinya koleksi-koleksi buku dan dokumen-dokumen yang ada perpusnas Salemba akan dipindahkan ke gedung perpusnas yang baru. Yang tentu saja lebih luas dan lebih nyaman dari gedung perpusnas Salemba. Kenyamanan dan kemudahan dalam mengakses informasi yang saya perlukan saya dapatkan melalui perpustakaan.

Di gedung perpusnas baru ini, kita dimudahkan dengan gedung yang luas dan nyaman, koleksi buku-buku yang memadai juga akses internet Wi-Fi. Fasilitas komputer dan internet ditujukan untuk layanan multimedia, naskah-naskah, peta, buku-buku langka hingga mikrofilm.

Untuk era globalisasi sekarang ini, akses Wi-Fi pasti sudah menjadi kebutuhan ya. Begitu juga dengan perpusnas baru yang juga menyediakannya. Jadi bukan cuma cafe dan resto aja lho yang menyediakan free Wi-Fi, dan menurut saya ini menjadi daya tarik bagi kaum millenials yang dekat dengan gadget dan internet. 

Gedung perpusnas baru ini juga bangunannya unik, yang didesain seperti jendela, mengartikan bahwa perpustakaan adalah Jendela Dunia (The Windows for Your World). Perpustakaan merupakan sumber pengetahuan bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Perpustakaan juga menjadi salah satu aktifitas edukatif, rekreatif dan kultural.

Dengan layanan yang merupakan perpaduan antara layanan inklusif, diversifikasi layanan, berbasis komunitas yang berbasis teknologi info dan komunikasi. Layanan inklusif di perpusnas ini didesain untuk melayani penyandang disabilitas dari segi prasarana, koleksi, maupun ruangan khusus bagi disabilitas tuna netra. Sedang diversifikasi layanan perpustakaan dimaksudkan agar seluruh lapisan masyarakat dan golongan usia dapat menikmati layanan perpustakaan di perpusnas ini.

Salah satu layanannya adalah Reading Area untuk anak-anak yang didesain dengan warna-warna cerah yang terdapat di lantai 7. Fasilitas lainnya yang juga ada di gedung perpusnas baru ini yaitu ruang pameran (galery), ruang teater, aula yang berkapasitas 1000 kursi, ruang telekonferensi dan ruang-ruang diskusi yang dapat digunakan oleh para komunitas literasi untuk mendukung kegiatan literasi mereka.

Fasilitas dan layanan tersebut tentu saja dapat kita gunakan. Caranya bagaimana ya? Tentu saja kita harus mendaftar terlebih dahulu sebagai anggota. Kartu anggota perpusnas berbasis Radio Frequent Identity (RFID), bahkan untuk seluruh pengelolaan koleksi di tiap lantai menggunakan RFID dan tele lift (transportasi pengantar buku). Jadi lebih memudahkan dalam tugas pengantaran buku. Kita bahkan juga dapat membawa pulang buku yang akan kita baca dengan limit waktu tertentu (open access).

Pada peresmian hari itu saya pun tidak ingin ketinggalan untuk memdaftar sebagai anggota. Saya memasukkan data-data pribadi saya melalui komputer yang ada. Setelah data terisi sesuai dengan kartu identitas diri, sayapun mencetak tiket yang berisi nomor keanggotaan. Kemudian petugas memanggil saya berdasarkan nomor tiket yang ada untuk mencocokkan data dan mengambil gambar wajah saya. Setelah selesai, dicetaklah kartu anggota saya. Mudahkan?

Nah..untuk teman-teman yang hobi baca, yuuk berkunjung ke perpusnas yang baru ini. Ajak juga ya anak-anak kita, kakak adik, saudara untuk ikut menikmati layanan perpusnas. Mari kita sama-sama menularkan hobi membaca ke masyarakat dan lingkungan. Dengan membaca tidak hanya menambah ilmu pengetahuan tapi juga membuat kreatifitas otak kita terjaga. Terutama untuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

http://www.perpusnas.go.id

Twitter : @perpusnas1

Instagram :@perpusnas

HQ’17

Advertisements
Seni Budaya, Uncategorized

Menapaki Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam

Karya seni di Indonesia sangat beragam, mulai dari seni musik, seni suara, seni tari, seni lukis, bahkan seni pertunjukan. Banyak sudah seniman-seniman kita yang telah melanglang buana dan terkenal dengan hasil karyanya. 

Sebut saja Bagong Kussudiardjo dengan seni tari dan pertunjukannya, Idris Sardi dengan seni biolanya, tak terhitung penyanyi kita yang juga terkenal misalnya Ruth Sahanaya, Raisa, KD, Titi DJ, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan seni lukis ada maestro pelukis Affandi yang karyanya disejajarkan dengan maestro pelukis kenamaan dunia lainnya.

Sarnadi Adam, pelukis Betawi yang juga dosen UNJ

Keanekaragaman suku di Indonesia juga menghasilkan banyak seniman yang berbakat dengan menampilkan ciri khas kedaerahannya. Adalah seniman asli Betawi yaitu Sarnadi Adam yang kali ini menggelar pameran hasil karyanya dari tanggal 20-25 Agustus 2017. 

Suatu kehormatan bagi saya dan rekan BloggerCrony dapat menghadiri acara peresmian pembukaan pameran karya beliau. Berkolaborasi antara Aston Marina Ancol dan Merpati Training Center dalam rangka memeriahkan hari kelahiran Indonesia ke 72, pameran lukisan Sarnadi Adam diselenggarakan di lobby hotel Aston Marina Ancol yang didukung juga oleh Women Radio.

Aston Marina Ancol adalah salah satu hotel naungan Archipelago International, yang beroperasi sejak 2008. Berlokasi di jantung Jakarta Utara yang berdekatan dengan pusat rekreasi air dan pantai, menjadi Aston Marina sebagai tempat yang nyaman seperti rumah sendiri. 

Dengan fasilitas lengkap dan service prima, Aston Marina Ancol menggandeng Merpati Training Center (MTC) dalam mendukung apresiasi seni anak bangsa. MTC yang diresmikan tahun 1995 oleh Mentri Perhubungan didirikan untuk memfasilitasi kebutuhan training internal tapi juga perusahaan penerbang lain. Seperti yang dikatakan bapak Alfandi Yuniar Luthfi selaku Direktur Utama Merpati bahwa MTC bangga jadi bagian perhelatan pameran lukisan Sarnadi Adam ini.

Sarnadi Adam, putra asli Betawi kelahiran Simprug, Kebayoran, Jakarta Selatan 27 Agustus 1956 ini menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Seni Rupa Indonesia dan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Beliau merasa terharu sekaligus bangga bisa ikut mengharumkan nama Indonesia juga tanah kelahirannya ke kancah seni lukis dunia.

Bapak Sarnadi Adam dan Bapak Oesman Sapta Odang diantara pejabat undangan

Karena seperti yang dikatakan Bapak Oesman Sapta Odang, Ketua Dewan Perwakilan Daerah DKI Jakarta dalam sambutan peresmiannya, bahwa pemerintah dalam hal ini DPD DKI Jakarta mendukung seniman lokal untuk berkreasi dan berkarya. Tidak banyak pelukis Betawi di Indonesia dan sudah sepatutnya kita ikut merasa bangga dan mengapresiasi karya mereka.

Sudah banyak karya-karya Sarnadi Adam yang dipamerkan ke berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Perancis, Swedia, Belgia, Luxemburg, New York, New Jersey dan Boston. Bahkan lukisan beliau banyak di koleksi di berbagai lembaga maiupun perseorangan, seperti di Dewan Kesenian Jakarta, Bentara Budaya, Museum Jakarta, Bank Indonesia, gubernur bahkan presiden.

Aktif melukis tidak menghalangi aktifitas beliau sebagai dosen di jurusan Seni Rupa, Universitas Jakarta. Beliau aktif dan konsisten menyelenggarakan dan mengikuti pameran yang bertujuan pengangkatan eksistensi diri dan bentuk pertanggungjawaban diri sebagai seniman.

Pameran lukisan Sarnadi Adam ini juga dimaksudkan untuk pelajaran bagi masyarakat terutama generasi muda. Tema yang dihadirkan tidak jauh dengan keseharian masyarakat Betawi pada jamannya. Sarnadi Adam sangat detail menembak sisi seni kehidupan masyarakat Betawi.

Warung dikampung Rawa Simprug
Kondangan

Menatap masa depan

Ada sekitar 26 lukisan dengan tema berbeda, mulai dari penari Betawi, perkampungan Betawi, kehidupan nelayan masyarakat Betawi juga tradisi Betawi seperti kondangan. Sisi religiuspun juga tidak lepas dari tangkapan beliau dengan menghadirkan lukisan Kabah yang saya interpretasikan sebagai wujud kerinduan dan keberserahan pelukis kepada Sang Pencipta.

Saya memang bukan pengamat seni profesional, tapi kebetulan juga saya suka melukis dan suka lukisan. Menjadi ketertarikan sendiri bagi saya akan lukisan beliau yang sebagian besar menampilkan sosok perempuan, terutama penari asli Betawi dengan kostumnya yang berwarna merah kuning.

Pameran lukisan beliau ini berlangsung hingga 25 Agustus 2017 mendatang. Untuk peminat dan penikmat seni lukis yuuk hadiri pameran ini. Semoga kedepannya akan lebih banyak lagi pelukis-pelukis yang dapat menyelengarakan pameran hasil karyanya.

HQ’17