Quds Say

Merantau, Satu Hal Yang Dulu Mustahil Saya Lakukan

Dari kecil saya tuh orangnya gampang banget mabokan. Bukan mabok dalam konteks minum-minuman keras ya, tapi mabok yang gak kuat bila berada lama-lama melakukan perjalanan dengan mobil atau bus. Gak usahlah sampai setengah hari perjalanan, terkadang baru beberapa jam aja udah gak kuat. Langsung deh, dari yang mulai tangan berkeringat dingin, kepala pusing dan perut berasa mual. Gak terhitung deh yang namanya muntah selama perjalanan.

Makanya walaupun keinginan bepergian besar, tapi kalo ingat betapa tersiksanya selama perjalanan itu bisa bikin jadi drop, bete. Mabokan itu saya alami sampai saya Sekolah Menengah Atas (SMA), walau kadarnya sedikit berkurang. Selama mabokan itu saya jarang ikut bepergian ke tempat-tempat yang harus menempuh perjalanan jauh.

Tetapi, memasuki masa akhir SMA saya sudah mulai sedikit-sedikit bepergian. Gak enak juga ya kalau teman ngajak pergi di akhir pekan saya sering menolak karena takut ketauan kalo saya ternyata mabokan. Dan saya juga gak mau merepotkan teman selama di perjalanan. 

Alhamdulillah, masa SMA merupakan masa yang indah yang saya lewati bersama teman dan juga guru. Banyak kegiatan yang saya dan teman-teman lakukan di sela-sela waktu sekolah. Kebetulan jurusan yang saya ambil waktu SMA adalah jurusan A4 (Bahasa), kalo sekarang gak ada ya. Berbagai ekstra kurikuler saya ambil, salah duanya Palang Merah Remaja (PMR) dan grup paduan suara sekolah, masih disambi juga sesekali ikut mengisi forum majalah dinding (mading) sekolah.

Menjelang akhir semester di kelas 3, banyak waktu luang tersisa. Sementara adik kelas menyiapkan diri untuk ujian kenaikan kelas, sedang saya dan teman-teman menyiapkan diri untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Sering kami berdiskusi tentang perguruan tinggi mana yang akan kami pilih nanti. Disitulah sering saya dicandai teman-teman kalo saya akan tetap di Jakarta, nemenin tugu Monas biar gak ilang emasnya hahaha. Karena beberapa teman memilih untuk kuliah di luar Jakarta.

Saya sempat hanya tertawa saja membalas canda mereka. Lah naik bis ke kota aja yang dekat saya mabok, gimana kalo kuliah di luar kota yang harus menempuh perjalanan jauh dan jauh juga dari orang tua. Bisa dibilang saya termasuk dekat dengan ibu bapak saya dan tidak pernah berjauhan dengan mereka. Mungkin karena saya berasal dari keluarga besar yang terbiasa selalu berkumpul.

Tapi, sempat juga teringat omongan teman-teman ketika kami membahas hendak kuliah dimana. Ada yang hendak kuliah di Bogor, Bandung, Padang bahkan yang terjauh Makassar. Duuh..kok kayaknya asyik ya, kuliah dan tinggal di kota lain dimana kita sebagai pendatangnya istilahnya kita merantau.

Satu kota yang langsung terbersit di pikiran saya yaitu Yogyakarta. Entah kenapa dari kecil saya suka mendengarkan irama langgam gamelan Jawa, rasanya menenangkan. Dan saya juga suka istana, keraton, bahkan sering menghayal jadi putri keraton hehehe. Kebetulan memang saya terlahir dari kedua orang tua yang berasal dari kota di Jawa Tengah, yaitu Kebumen untuk kampung halaman ibu saya dan Kudus untuk Bapak saya.
Yang saya tahu ketika akhirnya memutuskan untuk memilih Yogya sebagai kota tempat saya kuliah yaitu bahwa Yogya itu kota pelajar. Pasti banyaklah pelajar-pelajar dari berbagai kota disana. Selain itu, jarak Yogya dari Jakarta juga walaupun jauh tapi masih satu pulau dengan Jakarta dan dengan kota kampung halaman kedua orang tua saya. Jadi menurut hemat saya, ya saya bisa sekalian silahturahmi ke saudara-saudara dari ibu bapak saya itu.

Ada sih rasa takut, bagaimana ya kalau seandainya saya gak betah ketika sudah berada di Yogya dan tiba-tiba homesick, kangen dengan ibu bapak, masakan ibu, cerita ibu, adik kakak. Tapi rupanya keinginan saya untuk mencoba tinggal disana semakin kuat. Apalagi biaya hidup dan biaya kuliah di Yogya lebih murah di banding Jakarta. 

Jujur, kami bukan dari keluarga berada tapi orang tua saya sangat menekankan sekali akan pendidikan, tidak peduli laki-laki atau perempuan akan mendapatkan hak yang sama soal pendidikan. Saya pun berpikir, saya ingin sekali kuliah tapi saya juga gak mau jadi memberatkan orang tua apabila biaya kuliah mahal. Oleh sebab itu pilihan saya jatuh pada perguruan tinggi negeri yang notabene biayanya tidak semahal swasta. Konsekuensinya adalah saya harus belajar benar-benar agar dapat lolos masuk ke perguruan tinggi negeri seperti yang saya inginkan. 

Ketika pengisian formulir UMPTN, saya sudah diskusikan sebelumnya dengan kakak laki-laki saya yang kebetulan sudah kuliah di salah satu PTN di Jakarta. Dia sih nyaranin saya untuk memilih PTN yang sama. Tapi saya punya pilihan sendiri, Bismillah saya memilih Yogya sebagai pilihan pertama, Jakarta sebagai pilihan kedua dan Makassar sebagai pilihan ketiga. Makassar?hahaha bukannya lebih jauh ya dari Yogya..Entah ya waktu itu saya pilih karena keromantisan sesaat. Jadi ceritanya orang terdekat saya waktu itu berasal dari kota Makassar, jadi saya berpikiran kalo saya beruntung diterima di PTN di Makassar saya masih bisa dekat dengan dia..hehehe. 

Qadarullah..Allah mengabulkan keinginan saya. Saat pengumuman UMPTN keluarlah nama saya berikut nomer peserta dan PTN yang saya tuju. Alhamdulillah..antara senang tapi juga bingung. Senang karena diterima tapi juga bingung harus jauh dari orang tua, harus mulai mandiri dan melakukan perjalanan jauh. Waah…nano-nano deh rasanya.
Respon orang tua sih ikut senang ya, walau awalnya ibu merasa ragu melepas saya. Wajar ya..saya yang kalo bepergian deket aja mabokan eh kok ini malah mau pergi jauh, lain kota pula. Tapi Alhamdulillah, pada akhirnyapun ibu ikut mendukung. 

Perjalanan itupun akhirnya saya jalani. Persiapan untuk memulai kehidupan baru di Yogya hanya 2 hari sejak pengumuman. Bergegas kakakpun memesan tiket kereta untuk ke Yogya. Mungkin saking excitednya, sepertinya tubuh sayapun mengerti dan mendukung. Selama perjalanan perasaan bercampur aduk, antara senang, gugup, meledak-ledak saking gak sabarnya ingin segera tiba di Yogya kota impian saya.

Perjalanan jauh yang saya kuatirkan selama ini tidak terjadi. Sepanjang perjalanan gak ada tuh kepala pusing, keringet dingin atau perut mual. Hal itu sempat membuat saya heran, tapi saya nikmati saja. Berawal dari perjalanan ke Yogya itulah yang akhirnya membuat saya jadi semakin berani untuk melakukan perjalanan-perjalanan berikutnya.

8 tahun saya menetap di Yogya, dan selama itu disela-sela kesibukan kuliah, juga mulai bekerja sayapun mulai melakukan perjalanan ke berbagai kota di sekitar Yogya. Bahkan perjalanan antar pulaupun juga saya lakukan. Patut saya syukuri selama perjalanan dan berkendara yang namanya mabokan itu jarang banget terjadi. Bahkan setelah Yogya pun saya masih berkesempatan untuk menetap di Bali selama 2 tahun. Ternyata kemustahilan yang saya kira tidak bisa saya lakukan itu bisa saya dobrak.

Seperti kemustahilan yang berhasil didobrak teman-teman saya di Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) yaitu mak Nurul Rahma, Maria Soraya, Yurmawita Adismal, Kania Ningsih dan mak Ike Yuliastuti. Kami berkolaborasi dalam grup KEB Blog Collaborating Rina Soemarno yang mendobrak kemustahilan yang ada di diri kita. Semoga dengan tulisan saya dan teman-teman ini dapat menginspirasi teman-teman lain. Enjoy my writing, maks.

HQ’17

Advertisements